Thursday, February 22, 2018

Politik Santun Politik Berkelanjutan

Ini problem sebagian masyarakat kita yang selalu dihadapkan pada pemandangan janji suci tak sesuci realisasinya. Ini menyoal Janji-janji politik para politisi diberbagai tingkatan dalam perebutan kekuasaan. Adalah pesta demokrasi yang makin sering dijumpai, maka semakin dekat dimata telingan bahkan rasa seluruh lapisan warga masyarakat sebagai onjek dan subjek politik. Meski Durasi masa demokrasi kita berada pada rentang waktu lima Tahunan namun hampir setiap tahun ada pemandangan pesta demokrasi mulai pemilihan RT, RW, kepala Desa hingga Kepala Derah, Legislatif dan Pilpres menjadi pemandangan populer sebagai tahun politik. Kemesan serentak atas dasar perubahan undang undang telah membuat pemandangan pesta demokrasi semakin dekat dengan masyarakat kita, logikanya harus semakin sadar dan paham bahwa inti demokrasi adalah lahirnya pemimpin yang jujur amanah, adil serta mampu membuat suasan pembangunan kesejahteraan cepat terwujud. Memang parmeter keberhasilan sebuah produk politik menjadi sangat sulit diukur ketika janji politisi jauh lebih nyaring ketimbang realisasi politik yang selalu nisbi..."Ini juga bukan semata mata salah melulu para politsi melainkan warga masyarkat juga terlalu miring dan sumir memandang politik yang menjadi bagian yang harus dilaluinya", Artinya masyarakat juga memiliki andil besar dalam keberhasilan realisasi politik dalam era suksesi kepemimpinan dberbagai tahapannya. Lalu...apa yang membuat seolah olah produk produk dan gerakan politik menjadi biasa, jawaban sementara jika kita mau menebak-nemak ala orang buta adalah menyebut gajah saat memegang kakinya, jadi Gajah itu ya seperti Kaki Gajah yang dipegangnya, maka ketika orang buta satunya lagi memegang kuping gajah, maka ia akan mengatakan bahwa gajah itu adalah tipis lebar seperti kuping gajah. Ini ada tebakan-tebakan yang belum bermuara utuh pada substandi politik menjadi sangat pelik dan menggelitik di Indonesia bahkan produk-produk politik berupa hasil suksesi kepemimpinan selalu saja belum sempurna sesuai yang diharapkan warga atau yang dijanjikan para politisi sendiri. Ini mungkin lebih karena ada kebutaan politik yang dibutakan oleh buta-buta politik yang hanya berpikir pragmatis bahwa memenangi persaingan politik adalah segalanya, meskipun harus mengabaikan pendidikan politik yang sejatinya harus semakin mencerdaskan pilihan mereka sebagai warga politik negeri demokrasi ini. Celakanya ya itu tadi masuk pada lingkaran politik berlabel santun, namun pada kenyataanya mengabaikan kesantunan sebab lebih mementingkan mengkahiri kompetisi dengan gemilang muda dan murah...Ini cerdas namun membahayakan dalam konstalasi politik Indonesia...Apa Ia Politik Santun Politik Berkelanjutan ?? yang ada adalah Politik Mulai Tak Santun terus dilanjutkan...wallohu'alam

0 comments:

Post a Comment