• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Monday, March 9, 2015

Kamu Ngomong Begini, Dia Ngomong Begitu...Sama Saja



Ini persoalan fakta bukan opini atau alibi untuk sekedar mengekabui mata rakyat terutama penggiat anti korupsi. Rasa-rasanya gerah sudah mulai memuncak memenuhi ubun-ubun terkait persolan-persolan pemberantasan korupsi. Ramai-ramai mempraperadilankan KPK menjadi trend baru diranah hukum tanah air terutama bagi para terdakwa korupsi. Ini bukan tdak boleh hanya saja peluang melakukan perlawanan oleh para koruptor sama dengan memberi angin buat yang lainnya terinsipari berbuat yang sama.

Buntur perselisihan Polri dengan KPK beberapa waktu lalu berimbas pada guncangan hebat diranah hukum kita, dimana ada kecenderungan KPK bukan lagi lembaga yang ditakuti para pelaku korupsi bahkan cenderung memberi isyarat jikapun korupsi kagak bakalan diapa-apain tinggal praperadilankan saja...beres urusan nyari hakim yang mrip hakim sarpin buat memutusakan mengabulkan gugatan Praperadilannya...makin sip makin beres dan korupsi kemabali menjadi bagian seni dinegeri ini yang sejakk lama telah mensengsarakan rakyatnya..

Jadi apa yang biasa kita lakukan saat ini, tentu saja kubu penggiat anti korupsi sedang berpaya untuk mengembalikan taring KPK agar kembali menjadi lembaga kuat dan hebat dalam memberantas korupsi. namun susahnya makin susah karena para pemegang kebijakan saat ini lebih pada proporsi yang kurang berpihak dalam penguatan KPK untuk memberantas korupsi...Malah ada arahan KPK harus bertindak lebih pada upaya pencegahan buka penindakan. Sementara menjadi semakin sangsi upaya pencegahan itu hanya sebatas sosialisasi dan hibauan serta upaya-upaya memerangi dengan teori, sementara para maling yang makin sakti telah membawa lari pundi-pundi ladang korupsi dengan leluasa, tentu ini yang kita khawatirkan terjadi nanti dan saat ini ketika mencermati keadaan yang berkembang dipucuk pimpinan negeri ini. 

Maaf...yang satu bicara begini, yang satunya bicara begitu, padahal topiknya sama yaitu bagaimana upaya pemberantasan korupsi bisa dikoyak-koyak oleh perseteruan Polri dan KPK hingga merontokan tatanan yang sudah terbangun...Mangga ah teu langkung kumaha behna waee...

Saturday, March 7, 2015

Dolar Berjaya Rupiah Melemah, Itu Janji yang Menelanjangi Sumpah yang Tak Ditepati



Memang saat ini pemilik mata uang dolar mungkin sumringah jika melihat nilai tukar rupiah kita terus melemah hingga tembus di angka 13 ribu rupiah per satu dolar, ini memang peristiwa yang jarang terjadi anjloknya rupiah seperti ini. Meski memang yang bakal paling terpukul dengan meningkatnya nilai tukar dolat terhadap rupiah tersebut adalah para pengusaha yang mengandalkan bahan baku import. Bisa jadi imbasnya tetap saja pada daya beli masyarakat menangah bawah yang biasanya menjadi korban paling merasakan, meski secara langsung tidak terlibat karena golongan ekonomi lemah biasa hanya sebagai penerima dampak paling hilir tapi paling susah karena memang dasarnya juga sudah susah.

Pengusaha-pengusaha disektor produksi berbahan baku import memang paling mendapatkan tamparan keras dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tersebut. Biasanya sekali lagi berujung pada kenaikan sejumlah bahan pokok terdampak yang berujung pada lemahnya daya beli masayarak.

Si Miun sebagai sample masyarakat menengah bawah bahkan bawah kebawah lagi, telah menyadari dan merasakan kondisi rupiah yang kini tidak memiliki lagi taring yang dapat diandalkan sebagai alat tukar yang sah direpublik ini. alhasil ceuk si Miun memang susah kalau jadi orang susah, tapi jauh lebih susah jika terus memikirkan rupiah, sebab itu rupiah bagi kelas atau golongan masyarakat Si Miun adalah sebagai sesuatu yang langka dikejar lari, ditungguin tak ada yang mau menghampiri.

Kuncinya kembali pada mengusap dada...sabar cuuu...sabar Indonesia memang sedang diuji, para elit politik sedang ditelanjangi bagaimana mereka akan bertanggungjawab terhadap janji-janjinya. Semua ucapan sumpah serapah dan seabreg hutangnya kepada negara dan bangsa sedang ditunjukan bahwa bagaimanapun semua itu adalah hutang yang tidak boleh dipandang sebagai sebuah hal yang biasa-biasa saja atau tiidak memiliki implikasi apapun.

Dihadapan mahkamah rayat tak berdaya mungkin sejuta alasan bisa mengemuka untuk menutupi segala namun ingat fakta kadang susah disembunyikan dan dirubah meski dengan berlapis-lapis alibi dan berjuta-juta alasan. fakta selalu berbicara kemudian dan menyimpulkan sendiri sehingga semuanya terbukti. Siapa menyimpan janji dan tidak mau memenuhi karena hanya dijadikan alasan untuk lintasan semata, maka bersiap-siap untuk kemudian ditelanjangi oleh janjinya sendiri....   

Friday, March 6, 2015

Tunggu Segera Keluar "Kartu Indonesia Sabar"



Indonesia memang selalu hujan "Kartu", sejak dulu dalam percaturan persepakbolaan Indonesia selalu hujan kartu, mulai kartu kuning hingga kartu merah seperti menjadi tidak asing saat bertandang dilapangan karena mungkin kemampuan yang terbatas emosi pemain meninggi maka begitulah jadinya kartu-kartu itulah yang berbicara.

Demikian juga seterusnya, Kartu demi kartu terus mengalir deras mulai dari Kartu kikitir, iuran desa, rekening listrik, telepon, kartu antri sembako, antri BBM antri gas elpiji bersubsidi, hingga sejumlah kartu-kartu lainnya memang menjadi sagat Indonesia banget.

Belakangan berbagai jenis kartu kembali di populerkan oleh Presiden Kita Joko Widodo, tengok saja ada beberapa jenis kartu yang ia luncurkan, saat menjabat Guberur DKI yang hanya seumur jagung itu ada Kartu Jakarta Sehat, kartu Jakarta Pintar tapi memang tidak pernah meluncur Kartu untuk jatah  Kerumah (kartu bawaeun kaimah ceuk si Miun ieumah).

Begitupun saat hendak naik mencalonkan diri menjadi calon Presiden RI, sejumlah kartu-pun banyak diluncurkan, motif dan bentuknya hampir sama hanya jangkauannya lebih luas karena berbutut Indonesia, iya itu Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Kartu..?? apalagi ya harusnya sekarang segera diluncurkan "Kartu Indonesia Sabar"...Mengapa? karena memang kita rakyat Indonesia selalu saja disugesti untuk terus bersabar, sabar dalam arti menerima keadaan apapun yang menjadi kebijakan para elitnya, bukan sabar menanti perubahan yang berpihak pada rakyatnya.

Saat ini gaung kartu-kartu sakti ala Presiden Jokowi itu tidak terdengar segebyar seerti saat dikampanyekan, malah disejumlah daerah gaung kartu itu cenderung kalah oleh suara BBM naik turun, gas Elpiji langka, tarif angkutan naik, harga beras naik, harga cabe juga naik....maka Obatnya adalah "Kartu Indonesia Sabar", sekali lagi sabar dalam memaknai keadaan yang cenderung belum menunjukan perubahan signifikan, kalau tidak boleh dibilang jalan ditempat mungkin sama saja seperti jaman sebelumnya suara pucuk pimpinan negeri ini malah makin asyik berebut argumentasi membuat warna warni dalam aturan entah untuk apa nantiya, sebab jika untuk rakyat mengapa harus bertela-tela dan alot malah saling nyolot (tur popolotot-minjam kata-kata si Miun). 

Ini pemandangan yang sedang ditunjukan para elit, mulai perseteruan antar para elit partai politik, hingga perseteruan antara elit pemerintahan yang selalu mempertontonkan kejenuhan buat warganya yang sudah bosan dengan adu argumen sementara rakyat berebut beli elpiji susah, beli nasi juga mulai basi gitu...Ini elitnya malah meminta rakyat bersabar. Indonesia memang hebat..!!   

Thursday, March 5, 2015

Hutan Rusak, Siapa Bertanggung Jawab..??



Idealnya seluruh warga masyarakat yang harus bertanggung jawab. cuman jika seluruhnya bertanggung jawab tentu saja hutan kita tidak akan rusak. Sabab yang terjadi saat ini adalah karena sudah tidak ada lagi tanggung jawab kolektif diantara seluruh komponen warga, sehingga rusaklah hutan kita.

Menyoal keruskan huta memang banyak faktor banyak variabel dimana satu sama lain saling berkaitan. Jika dirunut semuanya bermuara pada dosa-dosa kita pada anak cucu yang akan lahir dan meneruskan hidup dialam marcapada ini. Kenapa kita yang berdosa? karena kita telah mewariskan kerusakan yang amat sangat pada anak cucu kita kelak. Jujur saja memang kita semua termasuk yang saat ini ada harus mewarisi hutan rusak setelah itu bukan memperbaiki yang rusak malah menambah kerusakan pada sisa hutan yang masih utuh ternyata disentuh juga dan dijamah dan dirambah dengan membabi buta. Matak teu kabayang kumaha engkena cenah...

Merunut penyebab kerusakan hutan sama dengan menelanjangi muka kita semua, sebab kenyataan membuktikan semuanya terjadi akibat keserakahan kita yang serba salah dan mendapat warisan yang salah sehingga kebagian rugi tidak lagi dapat menikmati keutuhan hutan yang seharusnya dijaga dan dilesatrikan. Mohon maaf sebab kebijakan pembukaan lahan pada akhirnya bermuara juga pada perusakan hutan sebab manipualasi juga terjadi pada saat membabat hutan dengan alasan membukaan lahan baru untuk pemukimankah, hutan produksikah atau malah perkebunan dan lain sebagainya yang telah menyumbang rusaknya hutan kita yang merupakan paru-paru dunia dalam kaca pandang Internasional atau dalam skala golab tentu saja sejumlah negara tetangga juga turut bergantung pada hutan Indonesia yang hanya tersisa persekian persen saja dari sebelumnya pada saat hutan lebat dan hebat.

Banyaknya alih fungsi lahan memang menjadi salah satu penyebab keruskan hutan dan ekosistem kita saat ini, derasnya pemburu dolar dari ekspor kayu membuat pembabatan dan perambahan hutan juga menjadi sangat membabi buta dan sulit dikendalikan, mulai skala kecil perorangan hingga berkedok pemegang HPH atau Hak Penebangan Hutan dan apapun namanya yang seolah-olah legal, ternyata pada kenyatannya selalu terselih proses tidak legal untuk menambah keuntungan. Misalnya peruntuka semula x hekatar menjadi xxx hektar sehingga makin bertambahlah kerusakan yang terjadi. Belum lagi perubahan iklim yang kini menjadi dapak dari menyempitnya hutan kita membuat semakin rawan kebakaran hutan lantaran boleh jadi cuaca yang makin panas saat kemarau tiba atau lagi-lagi kerena sengaja dibakar untuk dan atasnama rupiah deui wae kaditunamah.

Kita saat ini hanya kebagian gereget dan ngurut dada sebab bagaimanapun gencarna upaya penghijauan yang akan dan telah dilakukan dengan biaya ratusan miliar hingga triliunan sepertinya belum cukup ampuh untuk mengembalikan hutan-hutan kita yang rusak...Susah memang, sebab kesadaran menamam pohon penghijauan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kegiatan perawatan dari seluruh lapisan masyarakat...Ini problemnya. ...

Jika kita harus memaksakan diri masing-masing untuk menyadari jika hutan itu untuk kita semua jangan dirusak hanya karena lantaran tidak memiliki mata pencaharian kecuali dengan menebang kayu sembarangan karena hanya itu yang bisa dijual untuk hidup sehari-hari, rasa-rasanya ini juga perlu dicarikan solusinya agar hidup bergantu dari pencurian kayu yang jelas-jelas ilegal harus dihentikan dengan mensejahterakan para pelaku dengan usaha yang lain yang lebih menjanjikan, sebab penjara saja tidak cukup ampuh membuat para pelaku jera..Ini juga problemnya...  

Wednesday, March 4, 2015

Dinamika Revitalisasi Pasar Limbangan, Membuat Investor Kapok



Hallo Garut..!!
Pembaca yang Budiman...!!

Ada sebuah pertanyaan yang kadang menggelitik ketika dilakukan penataan atau pembangunan pasar tradisional disejumlah daerah selalu saja menuai masalah. Istilah para pengembang selalu tidak mulus dan penuh warna kadang penuh dusta padahal kan idealnya idak boleh ada dusta diantara kita...Ini ada penyebab yang secara logika memang susah-susah gampang ditebaknya. 

Mungkin karena ketika melakukan revitalisasi pasar tradisional terlalu banyak menampung isi kepala para pedagang termasuk mengurusi nasib isi perut warga pedagang dan keturnannya. Kemungkinan berikutnya karena ada rasa memiliki secara turun temurun dalam iklim bangunan pasar yang para pedagang tinggali, sehingga merasa lebih dari sekedar punya hak, padahal memang pasar itu berkembang karena di bangun dan dikembangkan oleh pemerintah dengan segala regulasinya. Ini yang kadang kita lupa, pedagang lupa dan semua lupa apalagi ada pihak berkepentingan mendompleng dibelakangnya jadi kadang kisruh menjadi biasa. Kemungkinan berikutnya adalah banyaknya para pihak yang merecoki terkadang sering berimplikasi pada susahnya proses investi pada pengembangan sejumlah pasar tradisional tersebut. Maaf yang merecoki biasanya para pemain sayap yang merasa tersisih pada tender, sehingga merasa tidak puas dan bermain sayap agar sedikit puas atau berikutnya sebuah situasi diciptakan hanya untuk menaikan posisi tawar dari atau para pihak yang memang suka bermain diranah itu.

Dalam kasus revitalisasi pasar Limbangan Kabupaten Garut, misalnya cukup lumayan alot hingga menguras banyak energi dan memaksa semua pihak untuk menjadi bagian dari perguliran proyek revitalisasi pasar terbesar di Kawasan Garut utara tersebut. Soalnya masih menyisakan banyak persoalan salah satunya adalah berlarut-larutnya pembangunan pasar tersebut hingga berujung pada sengke hukum di PTUN gara-gara IMB dan apalah-apalah itu, yang secara sepintas dipandang tidak akan bermasalah namun ternyata malah seru membuat para pedagang dan investor  kadang ragu-ragu antara maju dan menunggu. 

Pelajarannya adalah memang semua pihak terkait harus sangat cermat dan teliti tidak asal jadi, masalahnya jika persoalan datang lantaran kekeliruan itu pasti makin keliru dan tidak sempurna endingnya..

Sekali lagi pasar limbangan memberikan gambaran bagaimana para elit birokrasi kita di Garut pada saat awal revitalisasi pasar tersebut digulirkan, semua hanya memandang sebagai lahan mendapatkan "pamulangan", baik dari proses perijinan maupun uang sekedar bulak-balik diluar aturan kedinasan. Bagi pihak-pihak diluar sayap kewenangan, tentu saja membuat juga situasi agar ikut kebagian, maka lengkaplah sudah persoalan sehingga berlarut dan larut dalam ketidak pastian.

Perkembangannya kini sudah cukup lumayan, bangunan fisik terus menjelma mendekati finish pada hitungan enam bulan kedepan kurang lebih dan saatnya kini menentukan siapa cerdas memiliki tempat, atau mengalah karena memang tidak pernah mengelola kekalahan menjadi kekuatan. Aturan yang akan berlaku kemudian adalah siapa cepat ia dapat, siapa terlambat siap-siap disiap. Ini hukum dalam bisnis karena sebuah investasi jelas-jelas harus kembali. Ketika Bangunan sudah selesai menjelma tentu saja siapapun berminat dan punya uang dapat memilikinya karena juga berlaku batas toleransi bagi siapapun pedagang meski sejak awal memilikinya kalau kesempatan telah banyak diberikan untuk kepemilikan prioritas tidak diindahkanya jadi salah siapa "ceuk  pengembang...??".

Memang ini problematikanya, sebab kadang pemerintah terkait dalam bidang pembinaan pedagang kadang tidak memiliki formulasi yang mumpuni untuk tetap membuat mereka suvive dalam berbagai perubahan dipasar yang bersangkutan. Ini perlu dipikirkan sebelum memutusakan merevitalisasi pasar, pertimbangkan juga nasib para pedagang agar tidak tersingkir pemilik uang itu baru pemerintah peduli. jadi kepedulian itu tidak cukup berhasil membangun pasar menjadi bagus tetapi bagaimana juga mendidik mental pedagang yang juga siap mengelola keuangan agar bisa kembali memiliki lapak dagangan setelah berhasil direvitalisasi.

Sok kadang karunya oge kanu investasi, banyak cerita miring dengan kesimpulan kapok invesatsi di Garutmah rea pisan masalahna, untungnya can puguh buntungna geus hampir sapat ini persepsi yang harus segera dipertimbangkan, tidak hanya oleh pemerintah tapi juga warga masyarakat semuanya jika kita ingin memiliki daerah yang cepat maju..Aya ku rupa-rupa macemna kawas patlot gambar waenya..." Cag ah..!! 

 


Tuesday, March 3, 2015

Golkar Oh Golkar Nasibmu Kini...



Partai yang kokok sekokoh lambang beringin yang menjadi kebanggaanya kini memang sedang diterpa angin kencang, meski mungkin belum termasuk badai melanda keluarga partai warisan orde baru tersebut tentu saja makin terasa. Faktanya sudah jelas ada dua kubu yang saling mengklaim kepengurusan di tingkat pusat yang merefresentasikan Ical (Abu Rijal Bakri) dan Agung Laksono dimana keduanya merupak para penerus estapeta partai beringin tersebut.

Tentu saja bagi sebagian kalangan pengamat politik, kondisi partai golkar yang kini mengalami keretakan internal bukan hal yang aneh dan luar biasa, karena jauh-jauh sebelumnya juga sudah banyak dibaca dan diprediksi jika suatu ketika akan terjadi pula pucuk konflik ditubuh partai gemuk tersebut dalam krangka perjalananya. Pertanyaannya, Apakah ini sebuah upaya dari kiri, kanan dalam rangka mematikan Golkar sebab sudah sangat teruji kejayaanya pada beberapa dasawarsa? atau memang semata-mata karena para elit Golkar memang sudah sangat bosan menjalankan nahkoda partai datar-datar saja sehingga perlu ada goyangan supaya makin solid atau apa itu istiahnya..

Namun ketika sudah masuk diranah perselisihan, sepertinya menjadi sangat mengganggu dan tidak nyaman terhadap para penggawa partai ditingkat bawah, bahkan masyarakat pada umumnya yang selama ini menjadi objek dari setiap langkah dan gerak gerik partai menjadi bercermin balik. Apa iya golkar masih peduli rakyatnya sementara elitnya berseteru dan bersitegang terus..."Jawaban para elit juga tidak kalah sengit, "kan ini semua dilakukan demi rakyat agar jelas program dan mutu partai untuk rakyatnya", Kitu cenah Abah jeung si Miun malah ngurut dada asa teu kaharti kulogika jawaban kitumah. Nu pasti memang syahwat para elit partai sedang dirasuki ketakutan jika tidak lagi memiliki jabatan elit dipartai, atau sebaliknya karena gensi keinginannya tidak terpenuhi maka apapun akan dicari dan dijadikan celah memenuhinya...Ceuk si Miun ini bahayaa...

Wah..wah..Apa yang tertawa dibalik kisruhnya internal partai-partai besar tanah air ini? tentu ada dan sangat mudah meneaknya cari saja siapa lawan politik terus lari kemana para elit yang berseteru dari masing-masing kelompok muaranya dapat degan mudah ditebak.

Selamat berjuang Golkar, benahi internal jangan pertontonkan adegan yang memalukan untuk rakyat kita yang sama sekali tiidak menyukainya...

KPK Serahkan Kasus Komjen BG Ke Kejagung..??Apa Kata si Miun...



Dibawah kendali Pimpinan sementara KPK Taufiqurahman Ruqi, rasa-rasanya malah terasa hampa bukan lagi membuat hentakan dengan daya gedor yang super keras dan kuat, kini malah terlihat layu dan lunglai. Padahal kasus bejibun baik pengaduan maupun hasil penyelidikan sebelumnya harus dituntaskan KPK. Apakah benar lantaran terlalu banyak tugas atau Kasus Korupsi yang harus dituntaskan KPK, sehingga penanganan kasu Komjen Budi Gunawan (BG) akhirnya diserahkan ke Kejaksaan Agung untuk menuntaskannya. Ini pertanyaan si Miun tetangga Abah dipadepokan percenahan. 

Mohon maaf dalam kaca pandang abah tanpa kaca mata dan sedikit minus plus sekian angka, rasa-rasanya hambar gitu gimanaa? apakah ini tanda-tada jika KPK akan hanya tinggal nama, yang hanya sempat mengisi lembaran sejarah reformasi hukum Indonesia terutama dalam pemberantasan Korupsi. 

Korupsi itu yaa...jelas-jelas telah membuat bangsa ini tidak pernah menemukan kata maju dan sejahtera pada rakyatnya, melainkan tetap dalam posisi negara ketiga atau berkembang tentu saja kembang kempis nahan gejolak dan kembang kempis nahan tuntutan rakyat yang mulai terus bertanya kapan sejahteranya. Sementara klaim banyak pihak Indonesia ini kaya potensi, kaya ragam sumber daya alam dan yang lainnya yang mestinya tidak membuat warganya tetap sengsara. Ini pertanyaan mendasar sehingga KPK juga harus lahir dari kandungan gerakan reformasi yang bergulir pada beberapa dasawarsa kebelakang..

Kembali pada substansi, terkait dengan penyerahan penanganan kasus BG ke Kejagung, ini menjadi ingi bertanya besar mengapa jadi begini? atau karena gara-gara KPK memang penyidiknya sebagian berasal dari Polri? sehingga ada semacam harga pertimbangan institusi sama-sama penegak hukum. Tapi sejujurnya itu kurang pas, apakah kembali rakyat akan dipencundangi dengan keadaan pemberantasan korupsi yang masih terlilit kaki terikat tangan? wah bisa bahaya kharisma dan wibawa lembaga superbody untuk melawan korupsi ini lama-lama hanya jadi maung ompong atau macan tanpa taring. Jika dalam istilah kalangan santri pesantren seperti memperlakukan kondisi sebuah "cetakan mushaf Quran yang sudah tua dan usang, dibaca tidak diinjak tentu saja berdosa", ini yang harus diwaspadai jangan sampai KPK hanya jadi rujukan anti korupsi tapi koruptor dibiarkan masih aman menyelinap dalam ruang dan bngkai institusi yang ada, sekali lagi bahaya..

Kembali lagi pada substansi, rasanya cukup gerah juga dan ikut bertanya, mengapa ramai-ramai pegawai KPK saja unjuk rasa terkait penyerahan penanganan Kasus BG ke Kejagung tersebut, ada apa? tentu patut diduga ada hal yang janggal dan tidak masuk dilogika penegakan hukum bagi KPK yang selama ini jadi rujukan dan harapan banyak orang.  Wah seperti ada wibawa yang hilang atau memang sengaja dihilangkan karena ada sesuatu yang diagendakan (Suudzon dikitlah mungkin sengaja karena alasan apa gitu), tapi tetap tidak bisa diterima.

Sebenarnya mungkin karena KPK tidak mau lagi berseteru dengan Institusi Kepolisian tempatnya BG bernaung, bukankah Polri juga sama memiliki kekuatan untuk memberantas Korupsi seharusnya memang mengedepankan niatan bersih-bersih dari dalam baru lancar membersihkan diluaran. Intinya jika didalam institusinya masih belum bersih maka risih juga menjangkau yang lain. Itu sebabnya KPK harus membantu membersihkan agar wibawa Polisi kembali menjadi dambaan rakyatnya dengan sesungguhnya bukan dambaan dengan kecemasan atau kekecewaan lantaran masih banyak ulah oknum yang mengotorinya.

Mohon maaf...logika kami belum bisa menerima alasan Pak Ruqi mengambil kebijakan menyerahkan Kasus BG ke Kejagung meski bisa saja Kejaksaan lebih lugas dan tegas menanganinya, namun tentu saja kita masih harus menunggu perkembangannya...Mangga..!!  

Monday, March 2, 2015

Tatakrama, Tatakrasa yang Memudar



Lagi-lagi menyoal tatakrasa atau juga tatakrama yang menata sopan dan santun diantara sesama memang cenderung mulai luntur seiring dengan perkembangan teknologi yang kerap kali disalahkan sebagaia penyebab lunturya nilai-nilai moral bangsa, padahal sebenernya belum tentu juga jika penguatan terhadap mental-mental kita semua rasa-rasanya tidak terlalu bermasalah. Bukankah ini memang tantangan hidup yang harus dijalani dan dijalankan agar roda harmonisasi kehidupan tetap berjalan seiring sejalan dengan dinamika yang berkembang.

Hampura...da bukan hanya disatu daerah saja kita mendapatkan penurunan kualitas kehidupan dari sisi etika norma dan tatakrama kesopanan tersebut, melainkan hampir merata disejumlah belahan Indonesia lainnya juga hampir merata kita sedang menghadapi dekadensi moral yang nota bene sudah berlangsung sejak lama sebenarnya, Jika kita jujur kata-kata Dekadensi moral saja gaungnya terdengar sejak belasan tahun silam dimana barangkali pada saat itu terucap kata Dekadensi teradap moral dimana memang kondisinya sudah teramat sangat memprihatinkan.

Persoalannya memang tidak sesederhata itu, banyak faktor dan banyak variabel yang terkait satu sama lain sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tata kelola Bangsa dan Negara ini dalam beberapa Dasa Warsa terakhir ini. Maaf tidak bermaksud menyalahkan para pemimpin Bangsa karena belum tentu juga bersalah, malah mungkin yang bersalah adalah kita semua sebagai Bangsa selalu lengah dan menganggap mudah dari satu persolan ke persolan lainnya sehingga tidak pernah tuntas menyelesaikan persoalan itu , makanya jadi bom waktu pada saat-saat tertentu... 

Belakangan aksi geng motor anak remaja, aksi pencabulan dan perkosaan malah hampir tidak ada bedanya dilakukan pada berbagai tigkatan usia ini barangkali yang disebut dengan istlah tanpa pandag bulu tanpa melihat latar belakang, sebab benar-benar pelakunya juga sangat bervariatif mulai dari tingkat usia hingga starta sosial rupa-rupanya terwakili.

Ini memang faktanya dan kita sejenak dibuat bingung apa yang menyebabkannya?? barangkali jika kita berkhusnudzon karena kita memang banyak menjauhi tuhan, lebih banyak berhamba pada materi sehingga lupa diri lupa keadaan. Istigfar ajalah...

Lagi-lagi kini muncul kejahatan "bega", sebenarnya sejak jaman dulu juga begal malah lebih sadis dan ganas namun biasanya berada dipegunungan atau hutan yang merupakan lintasan yang dapat dilalui harus dengan nyali dan pemberani. Tapi kini Begal itu dilakukan dilingkungan  yang sebenarnya masih sangat dekat dengan kita. Ini berarti memang sekarang sedang berada pada tahap dimana kita kadang tidak menyadari berada dimana dengan sipa dan sedang apa.  Buktinya sipelaku masih bukan orang jauh dan asing melainkan masih dari lingkungan sekitar kita. Ironisnya memang  amarah yang memauncak karena berbagai faktor sebelumnya juga sepertinya harus menghakimi dengan aksi bakar pelaku atau aksi siksa masal hingga pelaku kadang  meninggal seketika...Ini harus menjadi renungan kita bersama....

Ahok Memang Hebat, Siapa Lagi Gubernur Berani Beraksi...



Memang baru Ahok yang berani menohok jantung para politisi di elit legislatif DKI Jakarta. Gubernur Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama memang layak mendapatkan dua jempol bahkan empat jempol sekaligus. Jika melihat sepak terjangnya yang menunjukan prinsip ketegasan yang didasari keterbukaan dan kejujuran tentu saja benar-benar menohok jantung para penggemar begal uang rakyat.

Meski belum tentu kebenarannya terkait temuan Dana Silumen versi Ahok bernilai Triliunan rupiah, namun tentu saja ini harus dinilai sebagai sebuah bentuk keberpihakan terhadap rakyat yang selama inipula tidak pernah secara jelas dan mengena saat menikmati kue pembangunan yang konon dananya mencapai triliunan rupiah. 

Bayangkan saja jika uang yang dapat dipermainkan bisa mencapai Triliunan rupiah, maka keterlaluian jika masih banyak anak jalanan dan orang terlantar malah makin menyesaki jalanan ibu kota. Apa ini Bukan Fakta..?? tentu saja semuanya sepakat. Bahwa Ahok memang hebat. Andai saja benar Ahok bisa selamatkan uang dari ancaman begal yang jelas-jelas berada dalam satu selimut sebagai sebuah lembaga yang seharusnya benar-benar berpihak pada rakyatnya.

Kaget dan "Disitu Kadang saya merasa sedih..." Kok tega-teganya mereka berencana memperkaya diri dari dana-dana tidak jelas yang jelas-jelas milik rakyat dari dan seharunya diperuntukan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pantas...pantas kesejahteraan rakyat itu hanya ada dalam percakapan dan janji politik semata, sebab dalam implementasinya kalah oleh keserakahan para bandit kuat dan kandel kulit beungeut, maaf pinjam kata-kata si Miun "euweuh ka era menta dukungan rahayat tapi merampok duit yang mendukungnya", semoga saja tidak...

Dalam konteks sikap Ahok yang seperti ini, rasa-rasanya berani polling sms pasti semuanya mendukung, dan hampura tidak ada lagi makna dukungan untuk para legislator kita yang masih doyan berkotor-kotor.

Semoga saja KPK segera merespon dengan cepat pengajuan atau laporan Ahok terkait dugaan penyimpangan oleh para politisi di DKI tersebut. Dan segera tangkap serta adili dengan mengungkap semua bukti-buktinya agak masyarakat kembali menguat kepercayaannya kepada Institusi penegak hukum. penjarakan mereka yang mencoba bermain dengan uang rakyat, sebeb jika dibiaran itu tidak hebat...

Selamat Ahok...Gubernur yang menjadi pelaku sejarah serta saya suka menjadi bagian dari penonton atau saksi dari torehan sejarah Ahok dalam menunjukan integritasnya sebagai anak bangsa...maju terus pantang mundur...Abah nunggu apa akan muncul lagi Gubernur lainnya yang bermental Ahok, berani tegas serta lugas...hebat,,...hebat...!! 

Sunday, March 1, 2015

Musim Batu, Musim Elit Beradu



Apa memang karena karakteristik batu yang keras dan kadang juga mudah hancur berantakan kalau sekalinya dipecahkan..?? Batu memang begitu adanya, khusunya batu Akik atau batu permata yang kini memasuki era kejayaan atau pamor batu akik  yang sedang berada dipuncaknya. Tidak perduli batu jenis apapun asal batu warnanya menarik tampilannya mengkilat pasti disapu peminat sabodo dengan harga tinggi yang penting batu akik.

Inilah yang terjadi, pemandangan ini memang bukan kali pertama meraih puncak atau kejayaan dipasar atau dibursa para kolektor batu antik atau batu permata, melainkan seperti memerankan siklus persekian tahunan dimana ada saatnya pamor batu naik ada juga turun dan biasa-bisa lagi. Nah kali rupanya puncak kejayaan batu yang amat sangat terangkat dan terdongkak, hingga membetot berbagai kalangan harus menjadi bagian dari eksistensi batu, mulai kalangan bawah hingga menegah atas turut serta jatuh cinta pada batu.

Entah apa yang menjadi penyebabnya, entah keberhasilan para kolektor memamerkan batu-batu koleksinya dengan mensugesti harga hingga sefantastik mungkin atau memang karena banyaknya batu yang melimpah ruah, atau memang karena diotak masyarakat kita sedang kosong dari objek berbau materi menggiurkan sehingga batu yang melambung menjadi objek kemudian. Rasanya biasa benar semuanya. 

Dibilang ulah dari para kolektor untuk mengangkat koleksinya memang benar, karena dikalangan kolektor batu akik memang sejak awal adalah bisnis yang menggiurkan. Atau karena memang karena kondisi masyarakat Indonesia khususnya sedang berada pada masa dimana pemandangan yang dapat memberinya sesuatu hasil itu yang akan menjadi incarannya. Sebab seperti halnya batu, saat ini rasanya lebih meudah menjual batu daripada menjual emas, ini memang faktanya.

Terlepas dari itu semua, apa benar gara-gara musim batu kemudian banyak masyarakat atau elitnya makin terbawa jadi senanf beradu? Ini juga jika dikait-kaitkan rasanya tidak terlalu salah, meskipun sejak belum musim batu juga namanya beradu dan berantem memang selalu ada dan menjadi biasa sepertinya. Misalnya beradu pemikiran diantara para elit politik dalam membela prinsif dan kepentingannya itu biasaa...beradu paham antar para akademisi mempertahankan agumentasinya mungkin juga demi reputasi dan validitas keilmuannya itu juga biasaa...malah yang tidak biasa perseteruan diranah hukum terasa kental aroma kepentingannya juga malah terasa paling mendominasi saat ini, meskipun sebelumnya juga kasus yang sama juga terjadi padahal batu tidak lagi booming.

Jadi musim beradu antar elit sebenarnya bukan lantaran pamor batu akik lagi naik, melainkan memang saat ini lagi senag beradu lantaran diadu-adukan lantaran kepentigan yang berbeda jauh antara satu sama lainnya sehingga sulit lagi seirama. Kita sebagai Rakyat ada yang mulai menyadari sedang menjadi objek penderita dari pertarungan elit, ada juga yang malah ikut serta menjadi bagian pertarungan lantaran memiliki sedikit harapan jika menang akan kecipratan.

Jadi ujungnya memang terkait dengan pendapatan, baik itu berupa materil dalam bentuk harta kekayaan ataupun berupa investasi belatar gengsi dimana tidak boleh tersisih lantaran saya memang sebagai penguasa, bisa saja ini juga pemicunya.

Memang dimusim batu, fenomena elit beradu semakin terasa kental meskipun mugkin hanya secara kebetulan saja..Sok teruskeun tukang batu sing beunghal, sok yang berseteru juga harus tuntas bermuara pada kesejahteran Rakyat jika itu benar untuk Rakyat...