Wednesday, February 11, 2015

Banjir Itu Seharusnya Anugerah


Banjir bagi sebagian besar kota di Tanah air kita memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan seperti telah menjadi agenda rutin tahunan atau siklus yang datang pergi kemudian datang kembali dengan besaran yang cenderung terus membesar jika melihat volume air serta intensitas hujan yang menjadi pemicunya.

Terlepas kehadirannnya telah menjadi seperti agenda atau siklus tahunan, banjir tetaplah banjir yang harus diwaspadai dan dicarikan terus solusinya. Sebab bukan tanpa mugkin solusi itu ada namun formulasinya yang masih belum ketemu sehingga masih saja belum berhasil mengantisipasinya. padahal jawabannya sangatlah sederhana penyebab banjir adalah tangan-tangan kita manusia. Sejujurnya seharusnya semua sepakat ketika kita manusia sudah tidak lagi ramah memperlakukan alam, tidak lagi sopan dan santun menjadikan alam ini sejatinya lingkungan hidup saat ini dan mendatang, maka  memang tidak heran jika kemudian banjir makin besar dan parah datang menerjang tidak lagi menunggu musim atau siklus datangnya seperti tahun lalu atau bulan kemarin, melainkan saat itu ada hujan saat itupula air menguap dan merendam hamparan yang ada.

Sekali lagi sejatinya banjir ini harusnya anugerah, namun karena kita manusia tidak lai ramah maka mohon maaf banjir yang datang silih berganti kali ini adalah musibah yang secara tidak langsung diundang dan ditantang sembarangan. Maka jangan salahkan jika banjir bandang datang menerjang, banjir meluap menelan banyak korban baik itu nyawa atau harta benda karena memang kesalahan ada pada kita.

Mulailah sadari jika kebiasaan buruk mempoduksi sampah yang banyak, adalah salah satu pemicu banjir melanda. kebiasaan membuang sampahnya sembarangan juga menjadikan banjir makin dekat dengan kita. Kebiasaan menggunduli hutan gunung atau bukit-bukit yang ada tanpa ada kemauan merehabilitasinya itu pemicu keras banjir bandang tiba-tiba datang.

Mari sadari bersama jika banjir telah mampu membuat jadwal dengan siklusnya, maka upaya merehabilitasi lahan dan merehabilitasi mental manusianya harus lebih dari sekedar siklus dan teragenda melainkan harus berlipat kali lebih dari sekedar harapan dan pelaksanaan. makin besar kehendak merehabilitasi lahan dan merehablitasi otak serta pemikiran tentang penyikapan penyebab dan dampak banjir. Maka suatu saat solusi mengatasi banjir akan dengan sendirinya menjadi jawabannya...  

 

0 comments:

Post a Comment