Friday, February 20, 2015

Garut, Domba Catwalk Dan Masa Depan Pariwisata


Membangkitkan dunia Pariwisata tentu saja bukan persoalan mudah terutama bagi sejumlah daerah yang secara alamiah kurang memiliki banyak potensi untuk dikembagkan pada sektor ini. Namun tidak sulit bagi Kabupaten Garut jika memang pemegang kebijakan serta warga masyarakatnya mendukung penuh jika sebagain kawasan Kabupaten Garut dijadikan Destinasi wisata, baik berlatar belakang keindahan alamnya, atau sosio kulture dengan keragaman seni dan budaya yang ada sesuai kekhasannya.

Alam Garut memang telah mengisyaratkan untuk disentuh menjadi daerah dengan sejumlah destinasy wisata potensial yang bisa terus dikembangkan, dengan catatan harus siap dengan segala konsekuensinya. Sebab apapun kebijakan yang diambil dalam menentukan arah pembangunan selalu ada konsekuensi yang mengekor dibelakangnya. 

Menurut hemat Abah jeung si Miun sebenarnya tidak ada masalah selama itu yang namanya konsekuensi masih terbilang logis. Misalnya membludaknya kunjungan wisata menyebabkan ruas jalan menjadi macet, sampah menggunung, kemudian sedikit tergangu kenyamanan warga asli.. ya harus siap berbagi kegemberiaan dengan para wisatawan. Ekstrimnya lagi adalah bersiap-siap untuk membuat aturan pembatas agar tidak terjadi deviasi dari kegiatan wsata berupa tumbuh suburnya kegiatan prostitusi.

Rasanya memang ini yang dimaksud dengan tantangan bagi pengelola pemerintahan dimanapun termasuk di Garut. Jika kebijakan untuk mengembangkan sektor pariwisata unggulan yang ada memang harus disiapkan juga hal-hal yang akan menjadi konsekuensi logis tadi.

Oke...kita menyoal sedikit potensi yang mulai menggeliat memberi image dan citra baru bagi itidak pengembangan pariwisata di Kabupaten Garut. Munculnya "Domba Caltwalk", sebuah kreasi pengembangan dari tradisi sebagai sebuah rekonstruksi kearifan lokal tentu saja harus dipahami sebagai sebuah upaya yang menggembirakan hanya saja potensi hilir dari bentuk kereasi seni pada ahirnya ini harus juga tetap diperhatikan. Misalnya proses pembinaan dan pengembangan domba Garut yang menjadi identitas Garut itu sendiri kadang masih naik turun dan berujung surut. Mengapa?

Tidak masalah memang dimana-mana juga selalu begitu semangat dan kemampuan manusia untuk membuat keadaan stabil selalu saja mengalami pasang surut. atau naik turun, yang tidak boleh dibiarkan adalah merasa cukup ketika ada orang yang masih bersedia mengembangkan dan menggerakannya, sementara kita teruatam pemerintah hanya menjadi penonton dan pemerhati, ini tidak seru...

Abah masih ingat,  ketika itu para tahun 2008 kebelakang dimana eksistensi Domba Garut sekan asing dirumahnya sendiri, tetapi begitu terlihat gegap gempita dikota-kota lain. Masih ingat bagaimana mata kamera sejumlah media televisi Nasional tetuju pada keindahan dan pesona Domba Garut tetapi sayang kala itu mereka mengabadikan momen itu tidak di Garut melainkan disejumlah kota lainnya, sehingga membuat abah jeung si Miun merasa cemburu mengapa domba Garut besar dan tumbuh membawa harum daerah lain sementara Garutnya sendiri malah tidak mendapatkan apresiasi.

Maka semenjak itulah, berbagai event domba digerakan secara masif semua yang terkait domba Garut di entertaint hingga mendongkarak sukses kembali  meninggikan pamor Domba Garut. Kala itu Wakil Bupati Garut Rd. Diky Chandra yang paling konsisten, jika Domba Garut ini adalah potensi unggulan yang harus dibesarkan untuk icon Garut kedepan. dan benar saja saat digelar kegiatan Karnaval Domba Garut terpanjang pada tahun 2009 dan hadir sekitar 2900 ekor domba Garut yang datang dari sebelas kabupaten Kota di Jawa Barat, menyerupai semacan reuni domba Garut yang akhirnya diganjar rekor MURI oleh Musieum Rekor Dunia Indonesia., sebagai kegiatan Karnaval domba Garut terpanjang dan terbanyak yang belum terpecahkan hingga saat ini. rekornya masih dipegang HPDKI (Himpunan Pengusaha Domba Kambing Indonesia) Kabupaten Garut.

Kembali ke Domba Catwalk, akhirnya juga terlahir atas obrolan rekan-rekan pecinta domba Garut, Saat itu seorang pria maniak domba yang visioner H. Amin warga Karangpawitan yang merespon ide dan gagasan yang sempat di gulirkan Abah dimana saking gembiranya si Rolex domba kesayanagan H. Amin kala itu juga berulang tahun , hingga peosesi ulang tahun sirolex mengundang sejumlah media televisi sawata nasional mengabadikan moment istimewa dan agak sedikit konyol namun memang itulah upaya membangkitkan fanatisme harus dibangun dengan cara-cara yang sedikit gila. Dan hasilnya semenjak itu, Adu Domba yang banyak dipersepsi miring sebuah perbuatan kurang positif mulai bergeser dengan pemahaman bukan lagi adu domba dimana domba bisa seenaknya diadu hingga mati seketika, tetapi semuanya berbingkai aturan pakalangan sebagaimana olah raga tinju ada aturan main yang memagari sehingga menjadi sebuah seni tradisi yang tetap manusiawi dan lestari. 

Istilahnyapun berubah semula laga adu domba menjadi laga ketangkasan domba Garut yang memberi warna baru sehingga benar-benar "Indah dipandang, Gandang dikandang, Gagah dikalang serta enak dipanggang". itulah Domba Garut.       

0 comments:

Post a Comment