Saturday, February 21, 2015

Sampah Itu Harus Dibersihkan Juragan



Hallo Garut...!! 

Pembaca yang Budiman...!!

Masih ingin menyoal terkait kebersihan dan keindahan Kota Garut tercinta yang kian hari kian memprihatinkan jika dilihat dari sudut pandang kesadaran warganya yang makin terus menurun. Apa penyebabnya? sama sekali abah oge teu ngarti. Namun jika berkaca pada pengalaman tentu saja kesadaran warga itu ada yang harus dipaksa melalui penegakan aturan ada juga yang dipaksa oleh keadaan yang memang benar-benar memaksa.

Misalnya dalam hal kebersiah pusat kota atau sebagian ruas jalan yang menjadi muka atau wajah kota Garut yang dulu memang membuat banyak orang ka irut, kagembang ku Garut imut lantaran besih rapih, asri dan sejuk sedap dirasa dan ditinggali. Tapi kini mohon maaf hanya tinggal jargon semata sebab kenyataanya memang faktnya begitu. Tidak percaya silahkan nurani kita yang berbicara.

Nah ini yang dimaksud dengan kesadaran yang mulai harus dipaksa baik dengan aturan tegas dan mengikat maupun dengan kembali menyentuh kesadaran warga melalui kesadaran religius, diman dulu dimesjid dimushola bahkan disekolah ajaran tentang kebersihan amat sangat prioritas. Ini perlu kembali digelorakan secara masif agak hasilnya iya juga. untuk apa ada insentif RT/RW jika nanti teralisasi jika dalam implementasinya belum bisa mengajak warga melek bersih, sadar sampah. Ingat ini penting juragan...!!! 

Lalu menyoal siapa yang salah? oh tidak adil  rasanya jika terus saling menyalahkan apalagi jika digiring keranah politik untuk menyudutkan lawan politik dengan tudingan tidak berhasil inilah, atau itulah, rasa-rasanya masih kurang tepat meski ada benarnya juga.

Menurut Hemat abah yang paling krusial yang saat ini kita hadapi bersama dalam hal kebersihan dan ketertiban itu, adalah menurunnya semangat dan kesadaran kolektif warga untuk menanggulangi secara bersama-sama, baik itu sampah ataupun tidak disiplinnya para pembuang sampah itu sendiri.

Maka akibatnya memang seperti inilah adanya, sampah masih saja menumpuk menyesaki setiap ruang dan luang yang ada. rek disisi trotoar, digang, dihalam rumah atau bahkan didepan mata kita sekalipun marak terlihat.

Apakah petugas kebersihan yang dibayar negara masih kurang? atau memang petugas kebersihannya belum dikelola secara maksimal atau mungkin anggaran operasional yang diberikan masih kurang untuk mengatasinya? ini pertanyaan yang kemudian sering mengemuka dan dijadikan jawaban kalsik dari para pengelola bidang itu secara resmi sebagai pejabat bertanggung jawab. 

Ceuk abah memang bisa jadi jika anggaran operasional yang disediakn minim memang sampah bakal makin membuming sebab paradigma bekerja birokrasi kita sudah benar-benar "Kinerja Berbasis Anggaran", maka jika tidak ada anggaran tidak ada kerja yang maksimal, itu mungkin intinya.... 

Lantas jika pola pola yang dikembangkan seperti itu kapan kita bisa menata kota jauh dari sampah, jangan-jangan jawabannya nanti jika anggarannya sudah lebih besar dari sampah yang melimpah...  

0 comments:

Post a Comment